Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bisa meningkatkan inflasi dan angka kemiskinan. Karena itu, setelah harga BBM naik, pengendalian inflasi dan pengentasan kemiskinan menjadi fokus utama pemerintah.
Febrio Kacaribu, Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan (BKF), mengatakan harga bahan bakar yang lebih tinggi justru harus menurunkan tingkat kemiskinan dan pengangguran. Untuk mencegah kedua kemungkinan tersebut, pemerintah memberikan bantuan sosial tambahan (bansos) senilai Rp 24,17 triliun selama empat bulan.
“Jadi memang tujuan kita agar kemiskinan turun, pengangguran harus turun juga. Itu yang menjadi arahan kita, untuk perlindungan sosial (perlinsos), dan sumber daya manusia. Apa yang kita ikuti secara dekat kemiskinan harus turun,” tutur Febrio kepada awak media saat ditemui di Gedung Parlemen DPR RI, Senin (5/9).
Febrio mengatakan manfaat bansos tersebut dapat menurunkan angka kemiskinan sebesar 0,3%. Menurut laporan terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS), tingkat kemiskinan di Indonesia pada Maret 2022 adalah 9,54%. Artinya, angka kemiskinan turun ke level 9,24%.
Meski demikian, Febrio tak menampik inflasi akan terus meningkat seiring penyesuaian harga BBM. Namun bantuan sosial tambahan dapat melindungi masyarakat rentan terbawah sebanyak 40% dan mempertahankan daya beli mereka.
“Ini yang kemudian kita akan hitung bersama-sama. Ternyata kalau kita berikan bansos kita bisa sama-sama jaga daya beli khususnya yang miskin dan rentan,” tambahnya.
Kementerian Keuangan menghitung inflasi akan naik 1,9% tahun ini karena kenaikan harga bahan bakar. Sebagai contoh, Febrio memperkirakan inflasi akan berkisar antara 6,6% dan 6,8% pada akhir tahun 2022. Perkiraan naik menjadi 4,8% dari target inflasi 2022 pemerintah sebelumnya sebesar 4%.
Meski demikian, Febrio mengatakan pemerintah akan mencegah kenaikan inflasi lebih dari 7% hingga akhir tahun. Ia juga optimistis pemerintah dapat menahan inflasi, setelah sebelumnya menyebut inflasi bisa turun menjadi 4,69% pada Agustus 2022 dibandingkan 4,9% yang dicapai pada Juli 2022.
“Artinya pemerintah mampu, dan kita bisa mengendalikan (inflasi) ini. Sehingga kedepannya harga telur dan lainnya harus langsung di atasi melalui mekanisme yang ada,” imbuhnya.
Febrio juga optimistis pertumbuhan ekonomi dapat bertahan di angka 5,2% tahun ini. Hal ini karena masyarakat miskin dan rentan dapat mempertahankan daya belinya melalui bantuan sosial tambahan.
Info: Pada Sabtu (3 September) pemerintah resmi menaikkan harga Pertalite, Solar bersubsidi, dan Pertamax.
Harga BBM Pertalite naik dari Rp7.650 menjadi Rp10.000 per liter, Solar bersubsidi dari Rp5.150 menjadi Rp6.800 per liter, dan Pertamax dari Rp12.500 menjadi Rp14.500 per liter.
src. kontan